12/11/2020

Dialog di Radio, KPBBC Tipe Madya C Probolinggo Bahas IMEI

KANIGARAN – Para pengguna smartphone mungkin tidak asing dengan istilah nomor IMEI, yakni nomer seri unik yang tertera pada tiap smartphone. Nomor tersebut terdiri atas 14 hingga 16 digit, dengan model unik yang tertera di bagian belakang smartphone.

“Pada dasarnya, IMEI merupakan identitas dari produk HP itu sendiri. Ibaratnya, kalau manusia punya KTP kalau HP punya IMEI,” ujar Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya C Probolinggo Nangkok P Pasaribu, saat mengisi program Dialog Interaktif di Radio Suara Kota, Kamis (12/11).

Rupanya nomor tersebut bukanlah nomor sembarangan. Nangkok mengatakan, fakta dari nomor tersebut adalah angkanya berbeda pada tiap-tiap smartphone, baik itu pabrikan luar negeri atau dalam negeri. Nomor IMEI menurutnya, sering kali tak diperhatikan oleh para pengguna hape pintar. Padahal, fungsi dari deretan nomor ini sangat penting. Pasalnya, selain sebagai identitas HP, IMEI juga bisa digunakan untuk blokir ponsel agar tak bisa akses ke jaringan internet.

“Nomor itu khusus pada satu smartphone saja. Meski sepintas hanya terlihat seperti angka-angka biasa, nomor IMEI seringkali tak diperhatikan oleh pemilik smartphone. Kita juga bisa mengecek dan melihatnya dengan melakukan dial di nomor *#06#,” katanya.

Pria asal Batak itu menambahkan, hal itu sangat penting dan merupakan bagian paling penting dari sebuah smartphone, karena nomor IMEI juga mempengaruhi kinerja Smartphone. “Jadi, apakah perangkat handphone, laptop atau tablet yang dibawa dari luar negeri bisa digunakan di Indonesia? Jawabannya bisa kok, tapi setelah IMEI atas perangkat elektroniknya tersebut didaftarkan. Dan pendaftarannya dapat dilakukan melalui kantor Bea Cukai terdekat atau dengan mendownload mobile KPPBC pada android,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut Nangkok juga mengingatkan, agar masyarakat tetap waspada terhadap segala upaya yang dilakukan oleh oknum tak berjanggungjawab, yang mengatasnamakan petugas bea cukai, dengan melaporkan melalui call center whatsapp 085331444959.

“Untuk berkoordinasi terkait pendaftaran IMEI, atau apabila masyarakat mengetahui adanya dugaan penipuan yang mengatasnamakan petugas bea cukai, laporkan saja. Kami memiliki beberapa jalur yang bisa dimanfaatkan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Regulasi pembatasan IMEI telah resmi dilakukan sejak 18 April 2020 lalu. Ponsel dengan nomor IMEI tidak terdaftar di situs Kementerian Kominfo bisa dikategorikan sebagai black market dan tidak bisa digunakan lagi. IMEI sendiri merupakan nomor identitas Internasional yang diambil dari 8 digit Type Allocation Code dari Global System for Mobile Association (GSMA) untuk mengidentifikasi alat serta perangkat telekomunikasi yang terhubung ke jaringan seluler. (Sonea)